Monday, 19 January 2026

Terlihat Bodoh

Ada satu akun Instagram yang baru saya follow, namanya @ucanoutdoors. pemiliknya orang Amerika kayanya, atau mungkin Inggris (saya belum mencari tahu), namanya Scott Tatum. Di bio-nya tertulis dia seorang nomad, heaker sharing a healed life

Jujur, postingannya keren-keren. Berisi aneka kutipan penuh makna dan diselingi banyak foto dia sedang camping/hiking. Btw, yang satu ini sangat menghujam di pikiran saya:


Dia lagi ngopi kayanya, yang menarik tulisan di mug yang dia pegang, "Your fear of looking stupid is holding you back." keren, anjir!

Kemudian captionya, mari kita terjemahkan:

Kamu takut terlihat bodoh? Bagus. Itu berarti kamu peduli.
Tapi berhenti membiarkan ketakutan itu mengendalikanmu.
Rasa takut itu yang membuatmu terpuruk dan tersingkir dari permainan hidup.

Tak ada satu pun orang yang membangun mental kuat atau harga diri tinggi
tanpa pernah terlihat bodoh di sepanjang jalannya.

Jadi berhentilah bersembunyi.
Ucapkan hal yang keliru.
Buat kesalahan.
Belajar.
Menyesuaikan diri.

Begitulah cara membangun kepercayaan diri
yang tak bisa dirampas siapa pun.

Kenali nilaimu
dan biasakan terlihat bodoh.

.

Share:

Sunday, 18 January 2026

Ah, Solomon Paradox

Pada tahun 2014, Igor Grossmann dan Ethan Kross melakukan sebuah penelitian unik. Mereka meminta sejumlah orang untuk membantu menyelesaikan konflik orang lain.

Hasilnya menarik: orang-orang ini mampu memberikan nasihat dengan bijak, melihat dari banyak perspektif, dan berpikir jangka panjang.

Penelitian berlanjut.
Orang-orang yang sama kemudian diminta untuk menyelesaikan masalah pribadi mereka sendiri.

Apa yang terjadi?

Di luar nurul.

Mereka justru tidak seterampil sebelumnya. Saat berhadapan dengan urusan pribadi, cara berpikir menjadi lebih sempit, emosional, dan akhirnya bias.

Fenomena inilah yang disebut Solomon Paradox.

Nama ini konon diambil dari Raja Salomo (King Solomon), simbol kebijaksanaan dalam tradisi Abrahamik. Ironinya, Raja Salomo dikenal sangat bijak dalam memutus perkara orang lain, tetapi sering dianggap gagal dalam mengatur kehidupan pribadinya sendiri.

Sederhananya begini:
saat diminta menyelesaikan masalah orang lain, kita bisa sangat cerdas dan jernih.
Namun ketika berhadapan dengan masalah sendiri, kita mendadak hah-hoh, blo’on, dan terasa berat sekali melangkah.

Kenapa bisa begitu?

Akar Psikologis Solomon Paradox

Solomon Paradox terjadi karena jarak psikologis (psychological distance).

Saat masalah itu milik orang lain:

  • emosi rendah

  • ego tidak terancam

  • identitas tidak dipertaruhkan

  • otak bekerja dalam mode reflektif dan analitis

Namun saat masalah itu milik diri sendiri:

  • ego ikut terlibat

  • harga diri terancam

  • muncul ketakutan kehilangan citra, cinta, atau status

  • otak masuk mode defensif dan emosional

➡️ Jadi ternyata, masalahnya bukan karena kita kurang pintar, melainkan terlalu melekat.


Ego, Keterikatan, dan Identitas

Solomon Paradox sangat erat hubungannya dengan:

  • ego

  • attachment (keterikatan)

  • identifikasi diri

Contohnya sederhana:

Lu dengan mudah bilang ke teman:

“Udah, lepasin aja tuh cewe. Lu pantas dapet yang lebih baik.”

Tapi saat lu sendiri ada di posisi yang sama:

“Tapi dia beda…”
“Tapi gue masih bisa berubah…”
“Tapi sayang banget…”

Kenapa?

Karena:

  • masalah orang lain = cerita

  • masalah diri sendiri = identitas

👉 Kita sebenarnya tidak sedang menyelesaikan masalah. Kita sedang membela diri.

Alih-alih menjadi problem solver, kita malah masuk ke mode survival.

Dan di titik itu, kebijaksanaan sering kali mati duluan.


Penutup

Singkatnya, kalau ingin keluar dari jerat Solomon Paradox, satu hal perlu dilakukan:

Redam egomu, Kawan. :)

Bukan supaya kalah,
tapi supaya bisa melihat dengan jernih lagi.

Share:

Monday, 13 October 2025

Abhimanyu dan Cakravyuha

Bila ditanya siapa karakter favorit saya dalam epos Mahabharata, tanpa pikir panjang saya akan langsung menjawab: Abhimanyu.

Kekaguman saya terhadap Abhimanyu semakin kuat setelah menonton video Kang Tanganbelang di YouTube — tentang bagaimana heroiknya putra Arjuna ini mengobrak-abrik formasi perang paling mematikan yang dirancang khusus oleh Mahaguru Drona: Cakravyuha.

Konon, di pihak Pandawa, hanya tiga orang yang benar-benar memahami formasi ini: Sri Kresna, Arjuna, dan Abhimanyu.
Namun yang unik, Abhimanyu hanya tahu cara masuk ke Cakravyuha, tapi tidak tahu cara keluarnya. Ia belajar setengah jalan — namun dengan separuh pengetahuan itu, ia tetap melangkah tanpa ragu. Dengan gagah berani, ia menembus lapisan-lapisan pasukan Kurawa hingga ke lingkaran terdalam Cakravyuha.

Secara militer, Cakravyuha adalah formasi spiral bertingkat — setiap lapisan dijaga oleh pasukan yang berputar dalam sinkronisasi ritmis. Jadi, keluar dari Cakravyuha bukan sekadar soal kekuatan, tapi tentang irama, arah, dan pemahaman terhadap gerak semesta.

Namun jika kita pandang dari sisi batin, Cakravyuha bukan sekadar strategi perang — ia adalah metafor dunia. Dunia yang terus berputar seperti roda: lahir, tumbuh, berjuang, mengejar, kecewa, kehilangan, dan akhirnya pulang. Masuknya penuh api — ambisi. Keluarnya lewat air — keikhlasan.

Selama kita masih ingin menang, kita masih berada di dalam pusaran.
Karena “menang” selalu berarti masih ada lawan.
Masih ada “aku” yang ingin lebih tinggi dari “yang lain.”
Dan di situlah Cakravyuha menjaga kita tetap berputar — dalam bentuk ambisi, gengsi, bahkan spiritualitas yang ingin dianggap suci.

Begitu kita berhenti berjuang untuk menang, bukan berarti kita menyerah.
Kita tetap bertindak, tapi tanpa pamrih.
Kita masih menembus, tapi tanpa ingin menaklukkan.
Kita masih hidup, tapi tanpa ingin dikenal hidup.

Di titik itu, pusaran perlahan berhenti.
Dan jalan keluar mulai tampak — bukan karena kita berhasil menaklukkannya, tapi karena kita berhenti menaklukkan.

“Ketika kau berhenti ingin menang, barulah kau menang atas dirimu sendiri.”
“Cakravyuha pun terbuka bukan karena kau memecahkannya, tapi karena kau berhenti menggenggamnya.”

Selama masih ada “aku”, pandangan kita akan tertutup oleh bayangannya sendiri.
Namun ketika “aku” itu tiada, cahaya-Nya memenuhi segalanya.
Dan di titik itu — bukan kita yang mencintai Tuhan,
tapi Tuhan yang mencintai lewat diri kita.

Abhimanyu mewakili jiwa muda yang penuh semangat menembus kehidupan.
Ia bisa masuk karena keberanian dan ambisi.
Namun ketika sampai di tengah pusaran, ia belum siap untuk tidak menjadi apa-apa — dan di sanalah ia terhenti.

“Cakravyuha adalah pusaran keakuan.
Setiap langkah menuju pusat adalah upaya menjadi tiada.
Di sanalah pintu keluar terbuka — bukan karena kita hebat,
tapi karena kita sudah tidak lagi ada.”

Lakukan ikhtiar dengan seluruh raga, tapi kosongkan dada.
Sebab hasil bukan di tanganmu, tapi di genggaman-Nya.

Mungkin, itu juga kunci keluar dari Cakravyuha:
Bukan berhenti bergerak, tapi bergerak tanpa menggenggam.

Dan mungkin… inilah rahasia yang ingin disampaikan semesta melalui kisah Abhimanyu:
Ia menembus dengan keberanian, tapi terjebak karena masih menggenggam.
Sedangkan jalan keluar hanya terbuka bagi mereka yang bergerak tanpa ingin memiliki arah.

Share:

Sunday, 12 October 2025

Ruh Permainan

Dulu, ketika usia remaja mulai beranjak dewasa, saya amat gandrung dengan PlayStation. Sebelum bapak membelikan saya konsol sendiri, saya sering ngerental — main bareng teman-teman, tertawa, berdebat, dan tenggelam dalam keseruan itu.

Game yang paling saya sukai waktu itu adalah game bertipe adventure dan RPG. Ketertarikan pada permainan yang berfokus pada pengembangan karakter bahkan terus berlanjut hingga masa kuliah.

Belakangan saya baru sadar, apa yang saya rasakan waktu itu sejalan dengan apa yang disampaikan Mihaly Csikszentmihalyi (ya, namanya memang susah banget diucapkan 😅) dalam bukunya Flow.

Ia bilang, ketika kita tenggelam sepenuhnya dalam apa yang kita kerjakan, di sanalah kebahagiaan sejati muncul. Kebahagiaan bukan soal peristiwa di luar diri, tapi tentang bagaimana kita menafsirkan dan menghayatinya.

Gambaran paling dekat dari keadaan flow ini mungkin saat kita sedang bermain game yang bagus — terutama game RPG. Saat bermain, kita seperti “tersedot” ke dalam dunia game itu. Waktu berjalan begitu cepat. Tantangan di awal terasa ringan, tapi makin lama makin sulit. Namun justru di situlah letak keseruannya. Ada sistem reward and punishment yang terasa nyata: ketika berhasil mengalahkan musuh, kita mendapat poin dan naik level. Tapi ketika kalah, ya game over. Dan anehnya, itu pun tetap menyenangkan.

Banyak orang merasa tak puas dengan rutinitas hariannya. Mereka terjebak dalam kebosanan karena menjauh dari zona flow-nya. Padahal, hal ini bisa diubah — dengan cara menemukan tantangan di dalam pekerjaan itu sendiri.

Ada contoh menarik yang disebut Mihaly dalam bukunya. Suatu pagi di Napoli, seorang turis Amerika masuk ke toko barang antik dan ingin membeli sebuah patung. Pemilik toko mematok harga tinggi, tapi ketika si turis hendak membayar, sang pemilik malah menolak menjualnya. Ternyata, ia melakukan itu karena menikmati proses tawar-menawar — baginya, itu bukan sekadar jual beli, tapi permainan yang menantang dan mengasah akal.

Selain itu, kita juga bisa belajar dari penduduk lansia di sebuah dusun di pegunungan Alpen. Setiap hari mereka bangun pukul lima pagi, memerah susu sapi, membawa jerami jauh-jauh, merawat kebun, atau memasak untuk keluarga. Tapi ketika ditanya apa yang akan mereka ubah seandainya menjadi orang kaya, mereka menjawab: “Tidak ada.” 

Mereka sudah berada dalam zona flow. Apa yang disebut pekerjaan, bagi mereka bukan beban — melainkan bagian dari hidup yang dijalani dengan sukacita.

Untuk menemukan flow dalam bekerja, cobalah menciptakan sistem “reward” pribadi. Jadikan pekerjaanmu seperti game RPG: cari tantangan, tingkatkan kemampuan, dan nikmati setiap level yang kamu taklukkan. Belajarlah sebanyak mungkin, bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk membantu orang lain dan lingkunganmu bertumbuh.

Karena bukankah, seperti yang disampaikan QS Ali Imran:134,

“Manusia terbaik adalah manusia yang niat hidupnya selalu ingin berkontribusi.”

-------------------------

Ditulis di Subang, jam 11. Malam Senin, yang besoknya kita akan berangkat kerja lagi. bermain game RPG lagi. 

Artikel ini disarikan dari Buku Flow Mihaly Csikszentmihalyi dan channel Youtubenya Kutubuku. 

Ciao!

Share:

Thursday, 2 October 2025

7 Alasan Kenapa Saya Masih Memilih Menulis

Di tengah gegap gempita media sosial seperti Instagram dan TikTok, dengan bertaburnya video-video menarik di sana, saya justru masih merasa nyaman menulis dan membaca tulisan. Kenapa?

1.      Menulis itu hening.
Alih-alih berbincang dengan orang lain, menulis membuat kita berbincang dengan diri sendiri. Dalam tulisan, saya bisa lebih jujur. Menulis juga jalan keabadian. Usia tulisan bisa jauh lebih lama dibanding usia penulisanya sendiri.

2.      Tulisan adalah inti pemikiran.
Ada proses menulis, menghapus, merevisi, lalu menyusun kembali. Hingga akhirnya lahirlah tulisan yang muncul di blog, buku, atau media lain—sebagai buah pikiran terbaik dari seorang penulis. Kadang kita tak sadar, satu artikel pendek yang kita tulis di blog, bisa memperbaiki hidup seseorang, minimal cara pikir mereka berubah.

3.      Tulisan bisa memperbaiki pola pikir.
Berkali-kali saya menemukan sudut pandang baru atau bahkan berubah pikiran, hanya karena membaca tulisan orang lain, entah dari buku atau artikel blog.

4.      Membaca melatih kesabaran berpikir.
Tidak seperti menonton video singkat, membaca menuntut kita untuk berhenti sejenak, merenung, dan memahami. Di situlah kedalaman lahir.

5.      Membantu merapikan isi kepala

Pikiran seringkali berantakan. Menulis itu seperti “merapikan lemari” isi otak—yang tadinya acak-acakan jadi lebih tertata. Banyak orang merasa lebih lega setelah menulis curahan hati atau pengalaman. Menulis bisa jadi terapi.

6.      Merekam jejak pikiran & perasaan.
Kadang kita lupa pernah berpikir atau merasakan sesuatu. Dengan menulis, semuanya terdokumentasi dan bisa kita baca ulang di masa depan.

7.      Melatih konsistensi & disiplin.
Apalagi kalau punya komitmen nulis rutin. Itu bukan cuma soal menghasilkan tulisan, tapi juga melatih mental untuk tekun.


      --------

      Ditulis di Subang, 2 Oktober 2025. Di rumah. Sambil nunggu Si bungsu yang sedang demam. 

Share:

Tuesday, 30 September 2025

Menjadi Benih Yang Terjatuh

Pada sebuah wawancara di TV nasional, KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) berkata pada seorang wartawan,

“Di dalam sebuah buku tasawuf, dikatakan: idfin wujudaka fii ardhil khumul, kuburkan dirimu dalam bumi kekosongan. maksudnya apa sih? JANGAN ADA PAMRIH. Anggap yang sedang kau lakukan itu sebagai tugas. Jangan mengejar harta dan kuasa sehingga dengan begitu kita jadi tak punya beban apa-apa.“

Perkataan Gus Dur yang mengutip dari kitab Al-hikam karya Ibn Atthaillah As-Sakandari ini jelas membekas di hati saya. Sampai berhari-hari saya memikirkannya.

Versi lengkap dari hikmah yang dikutip Gus Dur itu adalah seperti ini;

Idfin wujûdaka fî ardhi al-humûl. Famâ nabata mimmâ lam yudfan lâ yatimmu natâ’ijuhu.” Tanamlah keberadaan dirimu di tanah yang rendah, tak dikenal dan kosong, sebab sesuatu yang tumbuh dari sesuatu yang tidak ditanam tidak akan sempurna buahnya. (Ibnu Atha`illah as-Sakandari, al-Hikâm, hikmah No. 11).

Alfatihah untuk Mbahdur dan Ibnu Atthaillah As-Sakandari.

Hikmah dari kitab Al-Hikam ini selaras dengan yang disampaikan oleh Sadhguru, seorang mistikus terkenal dari India,

"Ambil kasus sebiji benih, jika benih itu terus menerus menyelamatkan dirinya, kehidupan baru tak mungkin terjadi. Benih itu telah melewati perjuangan hebat, kehilangan apa yang ia yakini sebagai identitasnya, kehilangan keamanan dan integritasnya dan menjadi rapuh untuk tumbuh menjadi pohon rimbun dengan banyak cabang yang berlimpah bunga dan buah. Tanpa keterbukaan yang ikhlas terhadap transformasi, kehidupan tak akan tumbuh.” - Inner Engineering, Sadhguru Hal.77

Dari nasihat-nasihat yang diberikan oleh Gus Dur, Ibn Attaillah dan Sadhguru ini, akhirnya saya belajar, kalau kita hidup itu harus seperti pohon. Berawal dari benih yang tak masalah (dengan senang hati) membenamkan diri ke tanah. Semangatnya dia ingin berbuah. Ingin memberikan kesejukan. Ingin memberikan perlindung. Bukan, buahnya bukan untuk dirinya sendiri. Oksigennya pun bukan untuk dia sendiri. Dia semangatnya memberi. Tak apa kadang dilempari. 

Saya melihat kebesaran dan keberadaan tuhan melalui pohon. Bagaimana pohon lahir, tumbuh dan berkembang. Ajaib pohon itu, dia mampu "melawan hukum alam". Air yang alamiahnya mengalir dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah, dalam tubuh pohon, air malah bergerak dari tanah ke atas. 

Sungguh, di kehidupan yang akan datang. Kalau misal saya mati dan terlahir kembali, boleh deh saya jadi pohon. Apel. :)

Share:

3 Ciri Orang Baik Menurut Gus Baha

Ada satu ceramah Gus Baha yang sangat membekas di pikiran saya. Jadi waktu itu beliau menyampaikan kurang lebih seperti ini: “Untuk mengetahui seseorang itu berperangai baik atau tidak, kita bisa mempelajari panduan yang disampaikan Allah melalui surat Al-imran ayat 134." 

sumber: nu.or.id

Dari ayat tersebut, Gus Baha menafsirkan bahwa ciri orang yang dicintai Allah itu ada tiga:

  1. Orang orang yang semangatnya selalu ingin berkontribusi. Memberi. Berinfak disini maksudnya memberikan apa yang dia punya, bisa menyumbang peran, pikiran ataupun harta.
  2. Orang yang sikapnya tidak berubah, baik di kala senang, maupun susah. Baginya, susah senang sama saja. Tak mudah marah. Tak mudah tersinggung. Dia mampu mengendalikan emosi dengan baik.
  3. Orang yang mudah memaafkan kesalahan orang lain.
Share:

Monday, 22 September 2025

Belajar dari sang Alkemis


Santiago namanya, anak muda di dataran Andalusia yang mengalami kehidupan unik nan menarik. Dia penggembala kambing, tapi beberapa kali hidupnya menemui keajaiban. Dia bertemu (atau dipertemukan) dengan orang yang memberitahu kalau hidup itu hanya sekali, dan kita harus mampu dan berani mengejar mimpi. 

Mimpi Santiago hanya satu, dia ingin melihat Piramida Mesir, karena konon di atas gundukan pasir, di sekitar piramida itu, ada harta karun yang menunggunya. 

Santiago sempat ragu, antara mengejar mimpi atau lebih memilih melanjutkan hidup sebagai penggembala. akhirnya, berkat perenungan panjang, dia berani meninggalkan tanah kelahirannya, mata pencahariannya, kambing-kambingnya, untuk pergi melewati padang pasir gersang demi menggapai mimpi. 

Beberapa kutipan indah sekaligus menggugah yang berhasil saya kutip dari novel Sang Alkemis karya Paulo Coelho ini:

1. Jangan menawarkan sesuatu yang belum jelas menjadi milik kita. 

2. Kebanyakan orang hanya melihat apa yang ingin dilihat, bukan apa yang sebenarnya terjadi. 

3. Ada hal-hal yang tak perlu dipertanyakan, supaya kau tak melarikan diri dari takdirmu. 

4. Kita sama-sama perlu membersihkan benak kita dari pikiran-pikiran negatif. 

5. Belajarlah bahasa antusiasme, bahasa orang yang berhasil dengan pekerjaannya karena dia lakukan dengan penuh cinta dan tujuan

6. Aku tidak hidup di masa lalu ataupun di masa depan. Aku hanya tertarik pada saat ini. Berbahagialah orang yang bisa berkonsentrasi hanya untuk saat ini. 

7. Keberanian adalah faktor paling penting untuk bisa memahami bahasa dunia. 

8. Ingat, di mana pun hatimu sedia, di situlah harta karunmu berada

9. Kehidupan akan menarik kehidupan. 

10. Hanya ada satu cara untuk belajar, yaitu melalui tindakan.

11. Kau tak perlu takut mendapatkan pukulan yang tak disangka-sangka. 

12. Katakan pada hatimu, rasa takut akan penderitaan justru lebih menyiksa daripada penderitaan itu sendiri. 

13. Tuhan bersemayam di dalam diri semua orang yang berbahagia. 

14. Jangan takut. jangan jadi pengecut. Sorot matamu menunjukan kekuatan jiwamu

15. Kau bisa saja mati belakangan atau kau bisa juga mati setelah perdamaian diumumkan. Tapi, bagaimanapun, kau akan tetap mati

16. Cintalah yang mengubah logam biasa menjadi emas. Itulah sang alkemis sejati, mampu mengubah hal-hal tak mengenakan menjadi sesuatu yang bermakna. 


-----------------------------

Ditulis di Subang, 13 September 2025. 


Share:

Tuesday, 2 July 2024

Tadah Pradah Ora Wegah

Dari semua karakter pewayangan, yang paling saya kagumi adalah Semar. Dia itu prinsip hidupnya Tadah, Pradah lan Ora Wegah." Begitu kata Mbah Tejo.

Maksudnya apa?

Tadah berarti sikap hati yang menerima. Ridho/senang terhadap situasi yang sedang dihadapi. Gelemi kahanan. Apapun yang terjadi, iyakan dulu. Mengiyakan hidup. Tiada penolakan dan keluh kesah. Orang yang sudah memiliki sikap tadah, tak ada doa lain yang terucap dari mulutnya kecuali, "Terima kasih alhamdulillah."

"Terima semua hal sebagaimana adanya." Miyamoto Musashi 

Pradah artinya ikhlas. Mau repot. Siap capek dalam menyumbang tenaga, harta dan pikiran untuk kebaikan sesama. Dengan potensi yang dimilikinya, berusaha untuk melakukan yang terbaik, meskipun itu repot. meskipun bikin capek. meskipun menyebabkan kehilangan. 

Ora wegah artinya tidak malas. ndak segan. tidak menunda-nunda. tidak milih-milih ketika melakukan suatu kebaikan. Hidupnya nggak dihabiskan hanya untuk rebahan. Berapa pun upah yang diberikan, ia akan melakukannya dengan senang & sepenuh hati. Mau dibayar 100ribu atau satu juta, effort nya sama.

"Saiki, kene, ngene aku gelem." Ki Ageng Suryomentaram 

Kata Mbah Semar, "Barangsiapa yang tadah pradah ora wegah, bisa kaya bisa tidak, tapi ketika butuh, duit itu ada."

Mbah Sujiwo Tejo menambahkan, "Semar itu ku kagumi karena dalam dirinya ada karakter unik. Ia dewasa, sekaligus kanak-kanak. Dewasa karena sifatnya hati-hati dan penuh perhitungan, tapi juga memiliki sifat kanak-kanak yang berani, gak pusing akan resiko serta bicaranya polos ceplas ceplos. Hal ini ditandai dengan kepalanya yang berkuncung.

Saat satu dunia membagi perasaan antara tragedi dan komedi, Mbah semar menggabungkan keduanya dengan rasa yang sama; "Berkah dan musibah sama saja."

Ini mirip seperti yang disampaikan Sayyidina Umar Bin Khattab, "Aku tak peduli dengan keadaan susah atau senangku, karena aku tak tahu mana dari keduanya yang baik untukku."

Dan akhirnya saya mengerti, kenapa Semar menjadi sosok paling kuat di dunia pewayangan, ternyata karena keikhlasannya yang luar biasa dalam mengarungi kehidupan. 

-----------------

Ditulis di Karawang, 2 Juli 2024. Di kantor, sehabis isoma. 

Disarikan dari ceramahnya dr. Fahruddin Faiz dan Tulisannya Mbah Sujiwo Tejo. 

Share:

Sunday, 7 January 2024

13 Hal Yang Membekas Dari Buku Inner Engineering-nya Sadhguru

- Hal hal paling mengerikan dalam hidup dapat menjadi sumber gizi jika Anda menerima. (Hal.71)

- Ambil kasus sebiji benih, jika benih itu terus menerus menyelamatkan dirinya, kehidupan baru tak mungkin terjadi. Benih itu telah melewati perjuangan hebat, kehilangan apa yang ia yakini sebagai identitasnya, kehilangan keamanan dan integritasnya dan menjadi rapuh untuk tumbuh menjadi pohon rimbun dengan banyak cabang yang berlimpah bunga dan buah. Tanpa keterbukaan yang ikhlas terhadap transformasi, kehidupan tak akan tumbuh.  (Hal.77)

- Dalam keterlibatan yang aktif dan penuh kesediaan dengan kehidupan ini, Anda akan dipeluk oleh kehidupan dan pelukan itu akan mengantarkan Anda menuju sumber penciptaan. Hanya itu yang diperlukan untuk menyentuh Sang Pencipta, hanya kesediaan, bukan yang lain. (Hal.85)  

- Ketika tak menganggapnya sebagai masalah, Anda akan mampu mengeksplorasi ketakterbatasan tanpa rasa takut (Hal.93)

- Terlebih dulu, tepikan prasangka prasangka Anda agar mampu melakukan eksplorasi tanpa hambatan terhadap kehidupan yang luar biasa. (Hal.101) 

- Tubuh fisik adalah karunia pertama yang kita sadari. Tubuh juga merupakan mesin tercanggih. Setiap mesin lain di planet ini tercipta dari mesin tubuh kita. Mistikus India abad ke-12, Basavanna, pernah menyebut tubuh sebagai sebuah kuil yang 'bergerak'. "Kakiku adalah pilar-pilarnya, tubuh adalah kuil, sementara kepala ada kupola emas." Ujarnya dalam salah satu bait terkenal dari sastra mistik India Selatan. (Hal.104-105) 

- Ketika merasa senang, Anda ingin berekspansi. Ketika takut, Anda ingin berkontraksi. (Hal.109)

- Bagi penari balet Rusia, Nijinsky, seluruh hidupnya adalah tarian. Ada momen momen ketika dia melompat ke ketinggian yang nampaknya mustahil bagi manusia. Bahkan jika otot seseorang berada pada performa puncak, masih ada batasan seberapa tinggi seseorang bisa melompat. Tapi dalam beberapa momen ia tampaknya bahkan melampaui batas tersebut. Orang orang sering bertanya, "Bagaimana cara Anda melakukannya?". Dia menjawab, "Tak mungkin saya mampu melakukannya. Ketika Nijinsky tidak berada di sana, barulah itu terjadi." (Hal.123)

- Jika sebilah pisau harus memotong sesuatu dengan mudah, penting agar substansi yang ditemuinya tidak menempel padanya. Pisau yang lengket jelas alat yang tidak efektif. (Hal.199)

- Penderitaan yang disebabkan oleh situasi eksternal sangatlah minim; hampir seluruhnya disebabkan oleh diri Anda sendiri! (Hal.202) 

- Jika Anda bisa melakukan apapun yang diperlukan dengan sukacita dalam situasi tertentu, inilah kebebasan. Kondisi bahagia ini melenyapkan ketakutan akan penderitaan. Dalam kondisi ekstase tanpa nama ini, tak ada kekhawatiran tentang pertahanan diri. Inilah yang membuat manusia menjadi ada dan bertindak dalam sebuah cara yang terkadang tampak seperti manusia super bagi orang lain. (Hal.235) 

- Begitu rasa takut akan penderitaan sirna, Anda bisa terjun ke dalam situasi-situasi apapun tanpa ragu. Bahkan jika Anda dikutuk ke neraka abadi, dengan senang hati Anda akan pergi kesana karena Anda tak lagi takut terhadap penderitaan! (Hal.236)

- Selama rasa takut terhadap penderitaan masih bertahan, Anda tak akan berani mengeksplorasi dimensi-dimensi kehidupan yang lebih dalam. Hanya tubuh ini yang butuh dilindungi, tak ada hal lain di dalam diri Anda yang butuh perlindungan. (Hal.236)   

Share:

Sunday, 11 June 2023

Luffy & Hancock



Boa Hancock adalah ratu bajak laut. Selain memiliki kekuatan buah Mero Mero No Mi, kecantikannya tiada dua.
Hancock adalah seorang mantan Shicibukai yang ditakuti. Dengan kombinasi pesona diri dan Mero Mero No Mi, ia mampu mengalahkan musuh tanpa menyentuh mereka sama sekali. Sebelum melakukan serangan fisik, mereka keburu menjadi batu.

Tapi, entah mengapa, ketika berhadapan dengan Luffy, kekuatan Hancock tak berfungsi sama sekali. Luffy tetap segar bugar, tak berubah menjadi batu.

Mengapa?

Dari kisah ini, sepertinya Oda ingin menyampaikan, bahwa Hancock itu seperti gambaran DUNIA

Satu-satunya yang membuat Luffy bertahan menghadapi Hancock adalah sikap acuh. Tak butuh. Luffy tidak tertarik sama sekali dengan kecantikan Hancock. Dia polos dan "bodoh". Karakternya berbanding terbalik dengan Sanji yang amat mudah tergoda pesona wanita. 

Luffy hanya menganggap Hancock sebagai sahabat, yang ketika ia membutuhkan pertolongan, Luffy siap membantu. Luffy tak mengharap apapun pada Hancock.

Anehnya, dengan sikap tak butuh seperti itu, Hancock malah berbalik, jadi cinta mati sama Luffy. 😄


Share:

Thursday, 8 June 2023

3 Ciri Seorang Ksatria


Kalau Anda ingin memiliki jiwa seorang ksatria, milikilah tiga sifat ini:

1. Jujur.

2. Berani. Teuneung ludeung. Tak gentar dengan masalah.  

3. Memiliki hati yang nerimo. Tak menyesal apalagi sampai menangisi keadaan. Jiwanya polos. Sepi ing pamrih, rame ing gawe. 

---

Disarikan dari pagelaran wayang golek Abah Asep Sunandar Sunarya dalam lakon Bambang Melasrana. 

Share:

Sunday, 4 June 2023

Ilmu Ekor Kucing

Kembali saya belajar dari Ade Rai. Selain pakar dalam bidang kesehatan, saya selalu kagum dengan petuah-petuah beliau. Kemarin Bli Ade bercerita tentang sebuah kisah fabel mengenai obrolan dua ekor kucing. Antara kucing senior dengan kucing junior. 

Kucing junior sedang berputar-putar mengejar ekornya sendiri. Si Senior bingung, ini bocah ngapain. kemudian ditanyalah:

"Hey kamu ngapain, kayak orang (baca: kucing) gak beres, muter-muter ngejar ekor sendiri." tanya kucing senior. 

"Ah kamu, masa gak tahu. saya bertahun-tahun belajar di sekolah kucing, kalau kebahagiaan kita itu, letaknya di ekor. makanya saya kejar-kejar terus." Jawab si junior.

"Oke, saya memang tak bersekolah tinggi seperti kamu. Tapi saya setuju kalau kebahagiaan kita, kaum kucing memang terletak di ekornya. Tapi masalahnya, semakin kamu mengejar ekor, dia malah akan semakin kabur dan sulit diraih." Kata si kucing senior. 

"Hehm, lantas apa yang kamu lakukan untuk mendapatkan kebahagiaan?" tanya si kucing junior. 

Sambil tersenyum si senior menjawab, "Yang saya lakukan adalah MELAKUKAN SEGALA SESUATU DENGAN SENANG HATI dan mampu memberi manfaat bagi saya dan kucing-kucing lainnya. Hal ini menjadikan saya tak usah mengejar ekor karena dengan sendirinya ia yang akan mengikut saya kemanapun saya pergi." :)  


Share:

Ryou!

Saat dijebloskan ke penjara Udon, Luffy bertemu sosok misterius, seorang kakek bernama Hyogoro. Mungkin inilah yang dinamakan anugrah disela derita. Kakek Hyo mengajarkan Luffy tentang RYOU. Apa itu?

Secara sederhana, Ryou adalah kekuatan yang memungkinkan penggunanya untuk menciptakan baju besi tak terlihat dengan menggunakan energi spiritual. Ryou menghadirkan kekuatan menyerang sekaligus bertahan yang sangat kuat. Bahkan saking luar biasanya, Ryou mampu melukai para pengguna buah iblis tanpa dengan menyentuhnya. Keren!

Susah payah Luffy berusaha memahami cara kerja Ryou, hingga akhirnya dia mampu menguasainya. Kelak Luffy akan sangat berterima kasih pada kakek Hyo, karena kekuatan ini amat berguna saat ia berhadapan one by one dengan Kaido.

Di kesempatan yang berbeda, saya sedang mendengarkan ceramahnya Buya Syakur. kurang lebih isinya begini: "Wahai Anakku, sikap hati yang selalu menerima dengan senang hati apapun yang menjadi keputusan Allah, itu namanya RIDO. Dalam hatimu sudah tidak ada lagi penyangkalan. Sudah tak ada lagi keluh kesah. Kalau lagi makan tempe, jangan memikirkan sate. Letak bahagia bukan dari materi, tapi dari hati yang selalu menerima."

Selain mendatangkan kebahagian, menurut saya, sikap hati yang selalu menerima (dengan senang hati) apapun yang terjadi, akan menghadirkan kekuatan dan ketangguhan. 

Hehm.. RYOU dan RIDO, dari segi kata, mirip kan ya? 

:)

Share:

Sunday, 14 May 2023

Sunacchi!

Dari semua arc One Piece, kisah Luffy di negeri Wano adalah yang paling saya sukai. Epic. Ceritanya penuh trik dan intrik. Dewasa dan penuh kejutan.

Selain mengisahkan perjalanan crew Topi Jerami dalam mengarungi dunia, arc wano berfokus pada kisah para ksatria Jepang yaitu Samurai. Alkisah, di Wano ada seorang Samurai hebat bernama Kozuki Oden. Samurai nyentrik ini memiliki pengikut yang dikenal dengan sebutan Akazaya Nine.

Nah, dari para pengikut setia Kozuki Oden inilah saya mengenal satu ungkapan yang menarik. Ketika berhadapan langsung dan melakukan serangan frontal terhadap Kaido, kesembilan Samurai tangguh ini serentak berujar, "Sunacchi!".

Kalau di-translate bebas ke Bahasa Indonesia, Sunacchi berarti "buang nama dan akalmu." Bila diartikan lebih mendalam, maksudnya adalah kita harus mampu meruntuhkah ego. Mengosongkan pikiran dari segala hasrat pribadi. Jujur dan tak gentar terhadap rintangan saat mengemban tugas.

Sebenarnya ungkapan Sunacchi ini juga diucapkan oleh pasukan Ashura Doji ketika hendak menyerang Onigashima (One Piece chapter 950). Semenjak kecil, para calon Samurai diberikan uji keberanian harus menceburkan diri ke laut lepas, dari atas jurang. 


Para samurai itu bilang, "Kenapa setelah dewasa kita jadi penakut? karena kita terlalu menyayangi diri kita sendiri. Buang nama dan akalmu. Kosongkan pikiran dan mari kita gempur musuh dengan kekuatan penuh." 

Hal ini mirip mirip dengan quotes yang muncul di film Dr. Strange, "Surrender, Steven. Silent your ego and your power will rise." 

Syaikh Abu Yazid al-Busthami bertanya kepada Tuhan,"Bagaimana jalan untuk sampai kepada-Mu?"
Tuhan menjawab, "Tinggalkan dirimu." 

Hal ini pun dipertegas oleh nasihat dari Alan Watts, seorang filsuf dari Barat, yang terkenal dengan istilah Hukum Kebalikan atau Law Of Reversed Effort

Beliau mengatakan, "Manakala Anda berusaha tetap di permukaan air, Anda justru tenggelam. Akan tetapi ketika Anda berusaha tenggelam, Anda justru terapung." 

Ada satu lagi moment yang membuat saya terkesiap di One Piece chapter 950 ini. Yaitu ketika di penjara Udon, Luffy sedang menasehati Momonosuke. 


"Barangsiapa berupaya menyelamatkan jiwanya, justru dia akan kehilangan jiwa itu." Allan Watts.


Share:

Sunday, 30 October 2022

Pidi Baiq: Pesimis Positif

Kemarin, saat olahraga sore-sore, saya mantengin obrolannya Ayah Pidi Baiq melalui aplikasi Spotify. Bahasannya unik. Seperti yang kita ketahui, Pidi Baiq ini memang dikenal orang yang nyentrik dan pola pikirnya ajaib. Pada podcast-nya kali ini, dia membahas satu filosofi hidup yang dia pegang, yaitu cara hidup Pesimis Positif. 

Maksudnya? 

Pesimis Positif adalah melakukan sesuatu tanpa ada harapan untuk mendapatkan hasil. Pidi Baiq memberikan contoh, ketika kita menyatakan perasaan pada perempuan, yang harus dibayangkan adalah bahwa kita akan ditolak. Ya, seperti itu memang. Terkesan pesimis, tapi positifnya, kau MELAKUKAN apa yang seharusnya dilakukan. Kalau ditolak, ya sudah, karena dari awal kita sudah pakai ekspektasi terburuk. Tapi kalau diterima, ya alhamdulilah, kita syukuri. :)

Mengapa kau gugup, kenapa kau gemetar, kenapa kau takut, itu karena kau MENGINGINKANNYA. Coba kalau tiada keinginan? Makanya, santai saja. :) 

Emangnya kalau aku tidak dapat kau, langit akan runtuh? Nggak deh kayanya. Hehe. 

Berkaryalah seperti kau sedang bercinta. Kan, ketika bercinta, kita gak memikirkan anak kita bentuknya akan seperti apa. Nikmati saja prosesnya. Kalau terlalu memikirkan hasil, justru akan merusak proses? 

Betul tidak?

Share:

Sunday, 25 September 2022

9 Ajaran Hidup Miyamoto Musashi

Kalau ngobrolin Samurai, pasti yang teringat adalah Kenshin Himura. Itupun tokoh fiktif. Padahal, di Jepang ada satu pendekar pedang hebat. Nyata. Hidup di tahun 1600an. Namanya Miyamoto Musashi. Hingga akhir hayatnya, Musashi mencatatkan rekor 61 kali pertarungan (duel) tanpa kalah. Menang terus. Biasanya, aturan duel jaman dulu itu, kalau kalah, bisa dipastikan mati. Bisa terbunuh, bisa juga karena harakiri.

Kisah hidup Musashi ini bisa teman-teman baca di novelnya Eiji Yoshikawa, atau buat yang senang manga bisa pantengin Vagabond karya mangaka favorit saya, Takehiko Inoue.

Di Novel, maupun di manga, duel Musashi dengan Sasaki Kojiro adalah puncak pencapaiannya sebagai seorang Samurai. Dalam pertarungan itu, Musashi menunjukan ciri khasnya. Dia menggunakan kombinasi katana dengan bokken (pedang kayu), tak lumrah dengan Samurai lain, yang biasanya pakai dua pedang, panjang dan pendek. Ini adalah penanda penting betapa tinggi ilmu berpedangnya.

Ia tidak lagi tergantung pada pedangnya. Ia mengandalkan dirinya sendiri untuk berdaptasi dan menggunakan apa yang disediakan alam untuknya. Ia telah menyatu bersama ritme alam.

Kalau dibandingkan dengan era sekarang, Musashi ini mirip-mirip dengan petinju Muhamad Ali. Sebelum bertarung, dia pandai mempermainkan emosi lawannya. Hal ini tergambar melalui cerita di Novelnya Eiji Yoshikawa:

Musashi tiba antara pukul 9 hingga 11 pagi. Cukup untuk membuat kesal Kojiro dan para pendukungnya yang telah bersiap-siap sejak pukul 8 pagi. Kedatangan Musashi disambut Kojiro yang dengan emosional langsung melemparkan sarung pedangnya ke air.

“Kamu sudah kalah Kojiro. Hanya orang kalah yang tidak memerlukan sarung pedang,” ujar Musashi sambil tersenyum. Ia terus saja mempermainkan emosi lawannya.

Tanpa basa-basi, Kojiro menerjang dengan pukulan mematikan yang diarahkan langsung ke dahi musuhnya yang makin menjengkelkan. Serangan itu memang dahsyat. Meskipun bisa mengelak, ikat kepala Musashi sempat sobek tapi tak sampai terpotong.
 

Meskipun demikian, bukan pertarungannya dengan Sasaki Kojiro saja yang menjadikan Musashi sebagai Kensei atau “Dewa Pedang”. Ia justru dikenal sebagai pemikir strategi dan seorang yang bijaksana setelah memasuki masa tuanya – terutama setelah menulis dua karya utamanya, “The Book of Five Rings” (Go Rin No Sho) dan “The Path of Aloneness” (Dokkodo).

Ada 21 ajaran Musashi Dalam Dokkodo, tapi menurut saya, intinya ada sembilan. Berikut 9 Ajaran Hidup Miyamoto Musashi yang tertuang dalam “The Path of Aloneness” (Dokkodo);

1. Terima semua hal sebagaimana adanya.
2. Jangan mencari kesenangan untuk kepentingan sendiri.
3. Jangan menyesali apa yang telah Anda lakukan.
4. Jangan pernah cemburu.
5. Kekesalan dan keluhan adalah tidak pantas untuk dirimu sendiri atau orang lain.
6. Tidak usah persoalkan di mana Anda tinggal dan jangan mengejar makanan makanan lezat.
7. Dalam semua hal jangan terikat pada pilihan tertentu.
8. Jangan takut mati.
9. Hormati Buddha dan para dewa (tuhan) tanpa berharap bantuan mereka.

Share:

Saturday, 30 July 2022

Gus Baha: Prestasi Tertinggi Manusia

Sayidina Umar bin Khattab ketika beliau pertama diangkat menjadi khalifah, orang mengira beliau akan menyampaikan hal hal yang besar; seperti visi misi bernegara, syariat islam, dan lain sebagainya.

Tapi ketika Sayyidina Umar naik ke Mimbar, pidatonya itu begini;

“Saya ini pemuda dari Bani Makhzum, dari kecil bisa makan karena bulik-bulik saya punya kebun kurma, yang kalau saya bantu memanen, diupahi beberapa biji, dan itu menjadikan saya bisa hidup. Wasssalamualaikum wr.wb.” 😁

Jadi direktur. Jadi CEO. Jadi menteri. Jadi presiden, mungkin selama ini kita anggap sesuatu yang prestisius. Padahal, kalau tak bisa makan, presiden pun akan kelabakan.  

Makanya Sayyidina Umar mengingatkan, “Sebetulnya nikmat tertinggi saya adalah bukan saat menjadi khalifah, tapi ketika aku bisa makan (kalau nggak aku mati)." 

“Misalkan sekarang saya punya kemuliaan, dihormati orang dan lain-lain.” Kata Gus Baha. “Bodoh sekali kalau saya menikmatinya. Paling banter, enaknya apa sih dihormati orang itu? Tapi kalau nikmat saat itu bisa makan, itu nyawa. Makanya saya ga mudah kecewa, selama bisa makan, itu sudah nikmat tertinggi.”

Kita ini menjadi angkuh, karena sering ngitung nikmat yang ‘besar-besar’. "Kalau saya nggak," Kata Gus Baha. Selama saya bisa makan, gak mati, itu adalah prestasi tertinggi. Begitu gampangnya cara pikir saya."

Makanya, orang-orang ahli tauhid itu tak pernah ada susah dalam hatinya, seperti di Qur’an surat Fussilat ayat 30. Paham ya?”  

 

اِنَّ الَّذِيْنَ قَالُوْا رَبُّنَا اللّٰهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوْا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ اَلَّا تَخَافُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَبْشِرُوْا بِالْجَنَّةِ الَّتِيْ كُنْتُمْ تُوْعَدُوْنَ

30. Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.”

 

------------------

Disarikan dari kitab Hayatis Sahabat yang disampaikan oleh Kyai Bahauddin Nur Salim (Gus Baha).

Share: