Monday, 19 January 2026

Terlihat Bodoh

Ada satu akun Instagram yang baru saya follow, namanya @ucanoutdoors. pemiliknya orang Amerika kayanya, atau mungkin Inggris (saya belum mencari tahu), namanya Scott Tatum. Di bio-nya tertulis dia seorang nomad, heaker sharing a healed life

Jujur, postingannya keren-keren. Berisi aneka kutipan penuh makna dan diselingi banyak foto dia sedang camping/hiking. Btw, yang satu ini sangat menghujam di pikiran saya:


Dia lagi ngopi kayanya, yang menarik tulisan di mug yang dia pegang, "Your fear of looking stupid is holding you back." keren, anjir!

Kemudian captionya, mari kita terjemahkan:

Kamu takut terlihat bodoh? Bagus. Itu berarti kamu peduli.
Tapi berhenti membiarkan ketakutan itu mengendalikanmu.
Rasa takut itu yang membuatmu terpuruk dan tersingkir dari permainan hidup.

Tak ada satu pun orang yang membangun mental kuat atau harga diri tinggi
tanpa pernah terlihat bodoh di sepanjang jalannya.

Jadi berhentilah bersembunyi.
Ucapkan hal yang keliru.
Buat kesalahan.
Belajar.
Menyesuaikan diri.

Begitulah cara membangun kepercayaan diri
yang tak bisa dirampas siapa pun.

Kenali nilaimu
dan biasakan terlihat bodoh.

.

Share:

Sunday, 18 January 2026

Ah, Solomon Paradox

Pada tahun 2014, Igor Grossmann dan Ethan Kross melakukan sebuah penelitian unik. Mereka meminta sejumlah orang untuk membantu menyelesaikan konflik orang lain.

Hasilnya menarik: orang-orang ini mampu memberikan nasihat dengan bijak, melihat dari banyak perspektif, dan berpikir jangka panjang.

Penelitian berlanjut.
Orang-orang yang sama kemudian diminta untuk menyelesaikan masalah pribadi mereka sendiri.

Apa yang terjadi?

Di luar nurul.

Mereka justru tidak seterampil sebelumnya. Saat berhadapan dengan urusan pribadi, cara berpikir menjadi lebih sempit, emosional, dan akhirnya bias.

Fenomena inilah yang disebut Solomon Paradox.

Nama ini konon diambil dari Raja Salomo (King Solomon), simbol kebijaksanaan dalam tradisi Abrahamik. Ironinya, Raja Salomo dikenal sangat bijak dalam memutus perkara orang lain, tetapi sering dianggap gagal dalam mengatur kehidupan pribadinya sendiri.

Sederhananya begini:
saat diminta menyelesaikan masalah orang lain, kita bisa sangat cerdas dan jernih.
Namun ketika berhadapan dengan masalah sendiri, kita mendadak hah-hoh, blo’on, dan terasa berat sekali melangkah.

Kenapa bisa begitu?

Akar Psikologis Solomon Paradox

Solomon Paradox terjadi karena jarak psikologis (psychological distance).

Saat masalah itu milik orang lain:

  • emosi rendah

  • ego tidak terancam

  • identitas tidak dipertaruhkan

  • otak bekerja dalam mode reflektif dan analitis

Namun saat masalah itu milik diri sendiri:

  • ego ikut terlibat

  • harga diri terancam

  • muncul ketakutan kehilangan citra, cinta, atau status

  • otak masuk mode defensif dan emosional

➡️ Jadi ternyata, masalahnya bukan karena kita kurang pintar, melainkan terlalu melekat.


Ego, Keterikatan, dan Identitas

Solomon Paradox sangat erat hubungannya dengan:

  • ego

  • attachment (keterikatan)

  • identifikasi diri

Contohnya sederhana:

Lu dengan mudah bilang ke teman:

“Udah, lepasin aja tuh cewe. Lu pantas dapet yang lebih baik.”

Tapi saat lu sendiri ada di posisi yang sama:

“Tapi dia beda…”
“Tapi gue masih bisa berubah…”
“Tapi sayang banget…”

Kenapa?

Karena:

  • masalah orang lain = cerita

  • masalah diri sendiri = identitas

👉 Kita sebenarnya tidak sedang menyelesaikan masalah. Kita sedang membela diri.

Alih-alih menjadi problem solver, kita malah masuk ke mode survival.

Dan di titik itu, kebijaksanaan sering kali mati duluan.


Penutup

Singkatnya, kalau ingin keluar dari jerat Solomon Paradox, satu hal perlu dilakukan:

Redam egomu, Kawan. :)

Bukan supaya kalah,
tapi supaya bisa melihat dengan jernih lagi.

Share:

Monday, 13 October 2025

Abhimanyu dan Cakravyuha

Bila ditanya siapa karakter favorit saya dalam epos Mahabharata, tanpa pikir panjang saya akan langsung menjawab: Abhimanyu.

Kekaguman saya terhadap Abhimanyu semakin kuat setelah menonton video Kang Tanganbelang di YouTube — tentang bagaimana heroiknya putra Arjuna ini mengobrak-abrik formasi perang paling mematikan yang dirancang khusus oleh Mahaguru Drona: Cakravyuha.

Konon, di pihak Pandawa, hanya tiga orang yang benar-benar memahami formasi ini: Sri Kresna, Arjuna, dan Abhimanyu.
Namun yang unik, Abhimanyu hanya tahu cara masuk ke Cakravyuha, tapi tidak tahu cara keluarnya. Ia belajar setengah jalan — namun dengan separuh pengetahuan itu, ia tetap melangkah tanpa ragu. Dengan gagah berani, ia menembus lapisan-lapisan pasukan Kurawa hingga ke lingkaran terdalam Cakravyuha.

Secara militer, Cakravyuha adalah formasi spiral bertingkat — setiap lapisan dijaga oleh pasukan yang berputar dalam sinkronisasi ritmis. Jadi, keluar dari Cakravyuha bukan sekadar soal kekuatan, tapi tentang irama, arah, dan pemahaman terhadap gerak semesta.

Namun jika kita pandang dari sisi batin, Cakravyuha bukan sekadar strategi perang — ia adalah metafor dunia. Dunia yang terus berputar seperti roda: lahir, tumbuh, berjuang, mengejar, kecewa, kehilangan, dan akhirnya pulang. Masuknya penuh api — ambisi. Keluarnya lewat air — keikhlasan.

Selama kita masih ingin menang, kita masih berada di dalam pusaran.
Karena “menang” selalu berarti masih ada lawan.
Masih ada “aku” yang ingin lebih tinggi dari “yang lain.”
Dan di situlah Cakravyuha menjaga kita tetap berputar — dalam bentuk ambisi, gengsi, bahkan spiritualitas yang ingin dianggap suci.

Begitu kita berhenti berjuang untuk menang, bukan berarti kita menyerah.
Kita tetap bertindak, tapi tanpa pamrih.
Kita masih menembus, tapi tanpa ingin menaklukkan.
Kita masih hidup, tapi tanpa ingin dikenal hidup.

Di titik itu, pusaran perlahan berhenti.
Dan jalan keluar mulai tampak — bukan karena kita berhasil menaklukkannya, tapi karena kita berhenti menaklukkan.

“Ketika kau berhenti ingin menang, barulah kau menang atas dirimu sendiri.”
“Cakravyuha pun terbuka bukan karena kau memecahkannya, tapi karena kau berhenti menggenggamnya.”

Selama masih ada “aku”, pandangan kita akan tertutup oleh bayangannya sendiri.
Namun ketika “aku” itu tiada, cahaya-Nya memenuhi segalanya.
Dan di titik itu — bukan kita yang mencintai Tuhan,
tapi Tuhan yang mencintai lewat diri kita.

Abhimanyu mewakili jiwa muda yang penuh semangat menembus kehidupan.
Ia bisa masuk karena keberanian dan ambisi.
Namun ketika sampai di tengah pusaran, ia belum siap untuk tidak menjadi apa-apa — dan di sanalah ia terhenti.

“Cakravyuha adalah pusaran keakuan.
Setiap langkah menuju pusat adalah upaya menjadi tiada.
Di sanalah pintu keluar terbuka — bukan karena kita hebat,
tapi karena kita sudah tidak lagi ada.”

Lakukan ikhtiar dengan seluruh raga, tapi kosongkan dada.
Sebab hasil bukan di tanganmu, tapi di genggaman-Nya.

Mungkin, itu juga kunci keluar dari Cakravyuha:
Bukan berhenti bergerak, tapi bergerak tanpa menggenggam.

Dan mungkin… inilah rahasia yang ingin disampaikan semesta melalui kisah Abhimanyu:
Ia menembus dengan keberanian, tapi terjebak karena masih menggenggam.
Sedangkan jalan keluar hanya terbuka bagi mereka yang bergerak tanpa ingin memiliki arah.

Share:

Sunday, 12 October 2025

Ruh Permainan

Dulu, ketika usia remaja mulai beranjak dewasa, saya amat gandrung dengan PlayStation. Sebelum bapak membelikan saya konsol sendiri, saya sering ngerental — main bareng teman-teman, tertawa, berdebat, dan tenggelam dalam keseruan itu.

Game yang paling saya sukai waktu itu adalah game bertipe adventure dan RPG. Ketertarikan pada permainan yang berfokus pada pengembangan karakter bahkan terus berlanjut hingga masa kuliah.

Belakangan saya baru sadar, apa yang saya rasakan waktu itu sejalan dengan apa yang disampaikan Mihaly Csikszentmihalyi (ya, namanya memang susah banget diucapkan 😅) dalam bukunya Flow.

Ia bilang, ketika kita tenggelam sepenuhnya dalam apa yang kita kerjakan, di sanalah kebahagiaan sejati muncul. Kebahagiaan bukan soal peristiwa di luar diri, tapi tentang bagaimana kita menafsirkan dan menghayatinya.

Gambaran paling dekat dari keadaan flow ini mungkin saat kita sedang bermain game yang bagus — terutama game RPG. Saat bermain, kita seperti “tersedot” ke dalam dunia game itu. Waktu berjalan begitu cepat. Tantangan di awal terasa ringan, tapi makin lama makin sulit. Namun justru di situlah letak keseruannya. Ada sistem reward and punishment yang terasa nyata: ketika berhasil mengalahkan musuh, kita mendapat poin dan naik level. Tapi ketika kalah, ya game over. Dan anehnya, itu pun tetap menyenangkan.

Banyak orang merasa tak puas dengan rutinitas hariannya. Mereka terjebak dalam kebosanan karena menjauh dari zona flow-nya. Padahal, hal ini bisa diubah — dengan cara menemukan tantangan di dalam pekerjaan itu sendiri.

Ada contoh menarik yang disebut Mihaly dalam bukunya. Suatu pagi di Napoli, seorang turis Amerika masuk ke toko barang antik dan ingin membeli sebuah patung. Pemilik toko mematok harga tinggi, tapi ketika si turis hendak membayar, sang pemilik malah menolak menjualnya. Ternyata, ia melakukan itu karena menikmati proses tawar-menawar — baginya, itu bukan sekadar jual beli, tapi permainan yang menantang dan mengasah akal.

Selain itu, kita juga bisa belajar dari penduduk lansia di sebuah dusun di pegunungan Alpen. Setiap hari mereka bangun pukul lima pagi, memerah susu sapi, membawa jerami jauh-jauh, merawat kebun, atau memasak untuk keluarga. Tapi ketika ditanya apa yang akan mereka ubah seandainya menjadi orang kaya, mereka menjawab: “Tidak ada.” 

Mereka sudah berada dalam zona flow. Apa yang disebut pekerjaan, bagi mereka bukan beban — melainkan bagian dari hidup yang dijalani dengan sukacita.

Untuk menemukan flow dalam bekerja, cobalah menciptakan sistem “reward” pribadi. Jadikan pekerjaanmu seperti game RPG: cari tantangan, tingkatkan kemampuan, dan nikmati setiap level yang kamu taklukkan. Belajarlah sebanyak mungkin, bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk membantu orang lain dan lingkunganmu bertumbuh.

Karena bukankah, seperti yang disampaikan QS Ali Imran:134,

“Manusia terbaik adalah manusia yang niat hidupnya selalu ingin berkontribusi.”

-------------------------

Ditulis di Subang, jam 11. Malam Senin, yang besoknya kita akan berangkat kerja lagi. bermain game RPG lagi. 

Artikel ini disarikan dari Buku Flow Mihaly Csikszentmihalyi dan channel Youtubenya Kutubuku. 

Ciao!

Share:

Thursday, 2 October 2025

7 Alasan Kenapa Saya Masih Memilih Menulis

Di tengah gegap gempita media sosial seperti Instagram dan TikTok, dengan bertaburnya video-video menarik di sana, saya justru masih merasa nyaman menulis dan membaca tulisan. Kenapa?

1.      Menulis itu hening.
Alih-alih berbincang dengan orang lain, menulis membuat kita berbincang dengan diri sendiri. Dalam tulisan, saya bisa lebih jujur. Menulis juga jalan keabadian. Usia tulisan bisa jauh lebih lama dibanding usia penulisanya sendiri.

2.      Tulisan adalah inti pemikiran.
Ada proses menulis, menghapus, merevisi, lalu menyusun kembali. Hingga akhirnya lahirlah tulisan yang muncul di blog, buku, atau media lain—sebagai buah pikiran terbaik dari seorang penulis. Kadang kita tak sadar, satu artikel pendek yang kita tulis di blog, bisa memperbaiki hidup seseorang, minimal cara pikir mereka berubah.

3.      Tulisan bisa memperbaiki pola pikir.
Berkali-kali saya menemukan sudut pandang baru atau bahkan berubah pikiran, hanya karena membaca tulisan orang lain, entah dari buku atau artikel blog.

4.      Membaca melatih kesabaran berpikir.
Tidak seperti menonton video singkat, membaca menuntut kita untuk berhenti sejenak, merenung, dan memahami. Di situlah kedalaman lahir.

5.      Membantu merapikan isi kepala

Pikiran seringkali berantakan. Menulis itu seperti “merapikan lemari” isi otak—yang tadinya acak-acakan jadi lebih tertata. Banyak orang merasa lebih lega setelah menulis curahan hati atau pengalaman. Menulis bisa jadi terapi.

6.      Merekam jejak pikiran & perasaan.
Kadang kita lupa pernah berpikir atau merasakan sesuatu. Dengan menulis, semuanya terdokumentasi dan bisa kita baca ulang di masa depan.

7.      Melatih konsistensi & disiplin.
Apalagi kalau punya komitmen nulis rutin. Itu bukan cuma soal menghasilkan tulisan, tapi juga melatih mental untuk tekun.


      --------

      Ditulis di Subang, 2 Oktober 2025. Di rumah. Sambil nunggu Si bungsu yang sedang demam. 

Share:

Tuesday, 30 September 2025

Menjadi Benih Yang Terjatuh

Pada sebuah wawancara di TV nasional, KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) berkata pada seorang wartawan,

“Di dalam sebuah buku tasawuf, dikatakan: idfin wujudaka fii ardhil khumul, kuburkan dirimu dalam bumi kekosongan. maksudnya apa sih? JANGAN ADA PAMRIH. Anggap yang sedang kau lakukan itu sebagai tugas. Jangan mengejar harta dan kuasa sehingga dengan begitu kita jadi tak punya beban apa-apa.“

Perkataan Gus Dur yang mengutip dari kitab Al-hikam karya Ibn Atthaillah As-Sakandari ini jelas membekas di hati saya. Sampai berhari-hari saya memikirkannya.

Versi lengkap dari hikmah yang dikutip Gus Dur itu adalah seperti ini;

Idfin wujûdaka fî ardhi al-humûl. Famâ nabata mimmâ lam yudfan lâ yatimmu natâ’ijuhu.” Tanamlah keberadaan dirimu di tanah yang rendah, tak dikenal dan kosong, sebab sesuatu yang tumbuh dari sesuatu yang tidak ditanam tidak akan sempurna buahnya. (Ibnu Atha`illah as-Sakandari, al-Hikâm, hikmah No. 11).

Alfatihah untuk Mbahdur dan Ibnu Atthaillah As-Sakandari.

Hikmah dari kitab Al-Hikam ini selaras dengan yang disampaikan oleh Sadhguru, seorang mistikus terkenal dari India,

"Ambil kasus sebiji benih, jika benih itu terus menerus menyelamatkan dirinya, kehidupan baru tak mungkin terjadi. Benih itu telah melewati perjuangan hebat, kehilangan apa yang ia yakini sebagai identitasnya, kehilangan keamanan dan integritasnya dan menjadi rapuh untuk tumbuh menjadi pohon rimbun dengan banyak cabang yang berlimpah bunga dan buah. Tanpa keterbukaan yang ikhlas terhadap transformasi, kehidupan tak akan tumbuh.” - Inner Engineering, Sadhguru Hal.77

Dari nasihat-nasihat yang diberikan oleh Gus Dur, Ibn Attaillah dan Sadhguru ini, akhirnya saya belajar, kalau kita hidup itu harus seperti pohon. Berawal dari benih yang tak masalah (dengan senang hati) membenamkan diri ke tanah. Semangatnya dia ingin berbuah. Ingin memberikan kesejukan. Ingin memberikan perlindung. Bukan, buahnya bukan untuk dirinya sendiri. Oksigennya pun bukan untuk dia sendiri. Dia semangatnya memberi. Tak apa kadang dilempari. 

Saya melihat kebesaran dan keberadaan tuhan melalui pohon. Bagaimana pohon lahir, tumbuh dan berkembang. Ajaib pohon itu, dia mampu "melawan hukum alam". Air yang alamiahnya mengalir dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah, dalam tubuh pohon, air malah bergerak dari tanah ke atas. 

Sungguh, di kehidupan yang akan datang. Kalau misal saya mati dan terlahir kembali, boleh deh saya jadi pohon. Apel. :)

Share:

3 Ciri Orang Baik Menurut Gus Baha

Ada satu ceramah Gus Baha yang sangat membekas di pikiran saya. Jadi waktu itu beliau menyampaikan kurang lebih seperti ini: “Untuk mengetahui seseorang itu berperangai baik atau tidak, kita bisa mempelajari panduan yang disampaikan Allah melalui surat Al-imran ayat 134." 

sumber: nu.or.id

Dari ayat tersebut, Gus Baha menafsirkan bahwa ciri orang yang dicintai Allah itu ada tiga:

  1. Orang orang yang semangatnya selalu ingin berkontribusi. Memberi. Berinfak disini maksudnya memberikan apa yang dia punya, bisa menyumbang peran, pikiran ataupun harta.
  2. Orang yang sikapnya tidak berubah, baik di kala senang, maupun susah. Baginya, susah senang sama saja. Tak mudah marah. Tak mudah tersinggung. Dia mampu mengendalikan emosi dengan baik.
  3. Orang yang mudah memaafkan kesalahan orang lain.
Share: