Sunday, 18 January 2026

Ah, Solomon Paradox

Pada tahun 2014, Igor Grossmann dan Ethan Kross melakukan sebuah penelitian unik. Mereka meminta sejumlah orang untuk membantu menyelesaikan konflik orang lain.

Hasilnya menarik: orang-orang ini mampu memberikan nasihat dengan bijak, melihat dari banyak perspektif, dan berpikir jangka panjang.

Penelitian berlanjut.
Orang-orang yang sama kemudian diminta untuk menyelesaikan masalah pribadi mereka sendiri.

Apa yang terjadi?

Di luar nurul.

Mereka justru tidak seterampil sebelumnya. Saat berhadapan dengan urusan pribadi, cara berpikir menjadi lebih sempit, emosional, dan akhirnya bias.

Fenomena inilah yang disebut Solomon Paradox.

Nama ini konon diambil dari Raja Salomo (King Solomon), simbol kebijaksanaan dalam tradisi Abrahamik. Ironinya, Raja Salomo dikenal sangat bijak dalam memutus perkara orang lain, tetapi sering dianggap gagal dalam mengatur kehidupan pribadinya sendiri.

Sederhananya begini:
saat diminta menyelesaikan masalah orang lain, kita bisa sangat cerdas dan jernih.
Namun ketika berhadapan dengan masalah sendiri, kita mendadak hah-hoh, blo’on, dan terasa berat sekali melangkah.

Kenapa bisa begitu?

Akar Psikologis Solomon Paradox

Solomon Paradox terjadi karena jarak psikologis (psychological distance).

Saat masalah itu milik orang lain:

  • emosi rendah

  • ego tidak terancam

  • identitas tidak dipertaruhkan

  • otak bekerja dalam mode reflektif dan analitis

Namun saat masalah itu milik diri sendiri:

  • ego ikut terlibat

  • harga diri terancam

  • muncul ketakutan kehilangan citra, cinta, atau status

  • otak masuk mode defensif dan emosional

➡️ Jadi ternyata, masalahnya bukan karena kita kurang pintar, melainkan terlalu melekat.


Ego, Keterikatan, dan Identitas

Solomon Paradox sangat erat hubungannya dengan:

  • ego

  • attachment (keterikatan)

  • identifikasi diri

Contohnya sederhana:

Lu dengan mudah bilang ke teman:

“Udah, lepasin aja tuh cewe. Lu pantas dapet yang lebih baik.”

Tapi saat lu sendiri ada di posisi yang sama:

“Tapi dia beda…”
“Tapi gue masih bisa berubah…”
“Tapi sayang banget…”

Kenapa?

Karena:

  • masalah orang lain = cerita

  • masalah diri sendiri = identitas

👉 Kita sebenarnya tidak sedang menyelesaikan masalah. Kita sedang membela diri.

Alih-alih menjadi problem solver, kita malah masuk ke mode survival.

Dan di titik itu, kebijaksanaan sering kali mati duluan.


Penutup

Singkatnya, kalau ingin keluar dari jerat Solomon Paradox, satu hal perlu dilakukan:

Redam egomu, Kawan. :)

Bukan supaya kalah,
tapi supaya bisa melihat dengan jernih lagi.

Share:

0 comments:

Post a Comment