Sore itu, Subang lagi romantis-romantisnya. Tak ada kemacetan, cuaca cerah dan mentari pun bersinar terang....
Sangat terang.
Saat itu saya sedang duduk di kursi mobil yang lagi melaju milik salah seorang calon nasabah. Niatnya mau silaturahim ke rumah orang tua beliau.
"Gerah ya Kang? maaf ya, AC nya belum dibenerin nih." Sepertinya Si Bapa melihat saya yang keringetan dan ga mau diem.
"Eh, oh.. iya ga apa-apa Pa. ga terlalu panas ko." jawab saya, salah tingkah. Sedikit berbohong.
"Memang cuaca sekarang ini lagi ekstrim pisan Kang, apalagi tengah hari begini. Biasanya, kalau panas-panas begini mah, tukang es buah atau jus pasti lagi kebanjiran order nih." kata Si Bapa sambil nyengir.
Benar saja, dikejauhan, terlihat tukang es shanghai lagi sumringah menghitung laba.
"Yang kasian mah itu kang..." Si Bapa menunjuk anak kecil tukang coet batu yang membawa dagangannya sambil ditanggung.
Hati saya berdesir.
"Saya mah suka pengen nangis kang kalau melihat fenomena seperti ini. Aneh ya, walaupun hidup mereka keras, mereka kelihatannhya selalu semangat menjalani hidup. Tapi kita, yang memiliki profesi lebih layak, sering banget berkeluh kesah.... tiap hari. Bahkan tiap bangun pagi."
"Kita seringnya lupa kang. Lupa bersyukur. Kalau melihat anak penjual coet batu tersebut, kita masih jauh lebih beruntung kan kang?" tambah Si Bapa.
Saya manggut-manggut.
Sambil menyetir Si Bapa terus bercerita, "Perihal bersyukur, saya punya cerita menarik nih." Dengan tersenyum getir, Si Bapa menoleh sebentar ke Saya.
"Saya punya seorang sahabat, orangnya yaa seumuran saya. Dia terkena penyakit yang aneh kang. Entah kenapa, secara tiba-tiba, matanya ga bisa ngedip. Kelopak matanya jadi ga otomatis lagi untuk berkedip. Aneh memang."
"Akibat ga bisa berkedip tersebut, matanya terus mengeluarkan air sepanjang hari. Pedih katanya. Karena cukup tersiksa, teman saya itu sudah berobat kesana kemari agar matanya kembali normal."
Mendengar ceritanya, mata saya ikut berkaca-kaca.
"Dari pengalaman teman saya ini, saya akhirnya bisa lebih bersyukur, Kang. Kita mah seringnya lupa kalau Allah selalu mencurahkan nikmatnya terus menerus. salah satunya nikmat berkedip ini yang sering kita lupakan, belum nikmat-nikmat yang lainnya. Yang sesungguhnya tak akan bisa kita hitung."
"Nikmat atau rezeki itu bukan hanya uang loh, kang. Kang Deden mau banyak uang tapi ga bisa berkedip sepanjang hari? hehe.." Si bapa menutup ceritanya dengan pertanyaan yang menohok.
Saya kaget, akhirnya hanya bisa tersenyum...... senyuman getir.
Jadi seperti itulah, kawan. Kebanyakan kita, termasuk saya, seringnya lupa. Kalau sebenarnya, dibalik semua masalah dan ujian yang ada, kita ini sudah hidup berkelimpahan. Coba ingat-ingat kembali, nikmat tuhan mana lagi yang telah kita dustakan??
Ditulis di Subang, 1 November 2013. Ditemani segelas kopi dan sepotong roti bakar.
Hatur nuhun buat Google dan Pikiran Rakyat, fotonya saya pinjam.



0 comments:
Post a Comment