Untuk melepas penat, alam memang obat paling mujarab. Alam selalu memberikan kesegaran baru, yang mampu merefresh pikiran yang mungkin sudah overdosis oleh urusan duniawi. :D
Kemarin, tepatnya tanggal 18 Mei 2013, kantor tempat saya mengais rezeki, mengirim kami ke sebuah tempat di selatan Bandung sana, sebuah daratan tinggi yang memiliki suhu udara cukup dingin bernama Pangalengan.
Waktu itu, selepas Maghrib, kita berangkat bersama pake mobil kantor. Menurut rundown acara, pembukaan event ini digelar tepat jam 8 malam. Untuk menghindari macet, Bang Ray, yang waktu itu sebagai driver, berinisiatif agar kita ngambil jalur tol Pasteur saja, lalu keluar di pintu tol Kopo.
Untung tak dapat di raih, Malang gudangnya apel, kita tetap saja terjebak macet lama di daerah Kopo Sayati, Bihbul, dst. Yaah, namanya juga Bandung, tiap jengkalnya pasti macet kalau weekend begini. Untunglah, selepas Soreang, jalanan lancar jaya.
Tapi tetap saja, kita telat. walaupun tak jauh2 amat dari Bandung, kita hampir 3 jam di perjalanan. sampe di tekape, orang-orang kantor udah pada rame aja. Tapi di balik ketelatan itu, kita tetap berbahagia. Karena, bak tamu istimewa, kita langsung dipersilahkan menikmati hidangan. hehe..
Keren-keren euy, ada paduan suara, band, musikalisasi puisi nan syahdu serta dangdut, tentu saja.
Sebagai perwakilan kantor, kita pun mencoba berpartisipasi. Karena hobi ngamen di bawah jembatan layang Pasopati, dengan bangga 'Yang Terlupakannya Iwan Fals' kita bawakan dengan gaya akustik.
Lagu kedua, dengan diiringi petikan gitar Bang Jopal dan cabikan basnya Bung Ray Dadink, Orkes Sakit Hati pun sukses kami lantunkan. Emang iya sukses? suksesss menurut kami maaah. :D
![]() |
| Check..check |
![]() | ||
| Woi, Barudaaaak... (Gaya Steelheart) |
| Ada yang mau request? "Oh tidak ada ternyata. baiklaah.. :( " |
Acara hiburan ini berlangsung hingga larut malam. Cukup meriah, karena selain dibawakan dengan suasana santai dan kekeluargaan (jabatan kita tanggalkan), berbagai camilan seperti kulub cau, kacang rebus, jagung rebus sertai bandrek bajigur terus menemani hingga kami terlelap di kasurnya masing-masing.
Tak sabar rasanya menanti hari esok yang sepertinya bakal meninggalkan kisah seru yang akan begitu menggebu bila nanti diceritakan pada anak cucu.
Esoknya, udara pagi yang menusuk tulang seakan terus merangsek dan memaksa kami untuk meninggalkan pondok penginapan. Sungguh dingin, "ini harus digerakan." pikir saya dalam hati.
Setelah sholat shubuh, sambil menunggu matahari terbit, saya pun lari-lari kecil depan pondokan yang penuh dengan rumput hijau. Sambil menyuruput bandrek hangat, saya duduk di bangku batu dan Subhanallah.......
![]() |
| Inilah yang dinamakan cuci mataaaa..... |
Ternyata tepat di bawah pondok tempat kami menginap itu, ada sebuah danau indah. Waktu malam, danau ini tak terlihat karena kegelapan pekat yang terus menghinggapi Pangalengan. Selidik punya selidik, ternyata inilah yang dinamakan danau atau Situ Cileunca.
Puas menikmat keindahan danau buatan seluas 1400 hektar ini, kita pun sarapan bersama. Ini penting, karena berbagai kegiatan akan kita jalani hingga sore menjelang.
Berbagai game seru kita mainkan disini. Yang paling berkesan apalagi kalau bukan pertempuran memperebutkan bendera musuh di arena paintball hutan pinus Pangalengan.
![]() |
| Si Mbak yang sangat menjiwai perannya |
Beres paintball, semua orang masih tampak sumringah. Karena kami tahu, sebentar lagi kita akan menghadapi game yang paling seru sekaligus bikin hati berdebar...... arung jeram di Sungai Palayangan.
Entah kapan sungai jernih yang bersumber dari Situ Cileunca ini digunakan sebagai arena rafting. Yang pasti, dengan arusnya yang lumayan deras, Sungai Palayangan jelas akan memacu adrelanin kami hingga dagdigdugseerrr tak karuan.
![]() |
| Gaya dulu sebelum nyebur |
Sesampainya ditempat rafting, kita dibagi perkelompok dan mendapat instrukturnya masing masing. Saya satu tim dengan si Jopal dan dua orang perempuan yaitu Teh Rika & Teh Rina.
"Kenalkan, nama saya Komodo. Disini saya sebagai instruktur kalian. tolong kerja samanya yaa." Teriak seorang pria ceking yang sepertinya akan jadi pemandu kami dalam mengarungi sungai Palayangan.
Saya dan Si Jopal saling pandang, sepertinya kita punya pikiran yang sama. Dengan penasaran, saya tanya,
"Nama aslinya beneran Komodo, Bang?" celetuk saya.
Dengan tegas, Bang Komodo menjawab, "Nama saya tidak penting, yang penting disini adalah keselamatan kita bersama. MENGERTI!"
"SIAPPPP BANG!" Jawab kami, serempak.Tanpa ba-bi-bu lagi.
Kemudian Bang Komodo melanjutkan instruksinya,
"Sampai pengarungan ini beres, saya akan tetap bersama kalian." Berhenti sebentar, Bang Komodo menyerahkan dayung kepada saya dan Si Jopal, "Laki-laki yang pegang dayung ya. Yang perempuan pegangan saja yang erat pada tali perahu."
Mendengar itu, Teh Rika sama Teh Rina mengangguk pelan. jilbab mereka terus berkibar ditiup angin.
"Pokonya, kalau saya bilang MAJU, dayung sekuat tenaga kearah depan ya!. kalau saya bilang MUNDUR, arahkan dayung ke belakang. Dan nanti, kalau ada jeram atau air terjun, saya pasti akan bilang BOOM!. saat itu, langsung dengan sigap teman-teman pindah posisi duduknya, ke bawah!" kata Si Bang Komodo sambil menunjuk perahu kami yang berwarna kuning.
"Oh iya, satu lagi, di sungai Palayangan ini, ada satu jeram yang paling ganas, namanya Jeram Domba. arusnya deras, dan posisinya lumayan tinggi. Disana, selain posisi duduk pindah kebawah, kalian harus merundukan kepala juga yaa. Okeeeh!"
"SIAPPP BAANG!" jerit kami.
"Baik kalau gitu, mari kita turunkan perahunya ke sungai!" kata Bang Komodo, tegas.
Takut digigit, kami pun nurut saja.
byuuurrrr....
"Oh iya, itu yang pakai kacamata, tolong kacamatanya dititipkan dulu pada panitia!" Kata Si Bang Komodo.
Saya dan Si Jopal yang bermata minus parah, cuma bisa melongo dan pasrah.
Kami pun melepas kacamata.
"Lu keliatan ngga Jow?" tanya saya, mengiba.
"Ngga." jawabnya
Hampir meneteskan air mata, saya pun berkata pasrah. "Ya udah, Lahaula aja dah, Jow. Semoga Allah melindungi."
Setelah obrolan itu, tiba-tiba satu pertanyaan indah keluar dari mulut Si Jopal,
"Cui, sebelumnya lu udah pernah rafting kan? kalau gue sih ini yang pertama. Lu jgn bilang ini yang pertama juga." Muka si Jopal melas.
"Sama. gue juga pertama kali jow. Hehe" Saya cengengesan.
Si Jopal hampir pingsan, tapi ga jadi akibat ada teriakan dari Bang Komodo,
"MAJJJJUUUUUUUU!!!"
Saya dan Si Jopal langsung mendayung sekuat tenaga.
Setelah itu, tak ada obrolan panjang lagi diantara kami. Yang terdengar cuma teriakan Bang Komodo yang berujar kencang, "MAJU, MUNDUR, BOOM, MAJU, MUNDUR, BOOM, SERONG KIRI, SERONG KANAN, dst."
Selain itu, yang paling sering kami dengar adalah, "ANJIRRR..ANJIRRR", dari mulutnya Si Jopal bila si perahu mau menabrak karang besar. Si Jopal duduknya paling depan, jadi tentu saja dia yang paling ngeri sendiri bila perahunya nabrak.
"Nah, bersiaplah. Inilah yang dinamakan Jeram Domba. Ingat instruksi saya tadi kan?" tanya si Bang Komodo, kalem.
Kami diam. Tegang stadium akhir.
"INGAT NGGAAA?" Bang Komodo teriak. kayanya dia ngambek, karena ga diwaro.
"INGATTT BAANG!" jawab kami serempak.
"BOOOOOOOM!!!" Jerit Bang Komodo.
Kami langsung pindah posisi dan merunduk.
Tanpa ampun. tanpa direm sedikit pun, perahu langsung melibas Jeram Domba dengan kecepatan tinggi. benar kata Bang Komodo, jeramnya sangat tinggi dan airnya pun super deras.
Bruuuushhhhh! perahu terjun bebas. badan kami tenggelam, masuk sungai semuanya.Alhamdulillah masih dalam posisi diatas perahu.
Disinilah prahara terjadi. Tanpa kami sadari, ternyata Bang Komodo yang duduk paling belakang, terlempar dari perahu. Dayung yang seharusnya selalu dalam genggamannya, tiba-tiba terlepas dan tanpa ampun, pangkal dayung tersebut menghantap dadanya, keras.
Bukh!
Melihat insiden ini, kru rafting yang standby di pinggir sungai, langsung pada tereak,
"Si Komodo labuh. Si Komodo labuh!" ~ artinya: Si Komodo Jatuh ~
Dengan sigap, kru langsung melemparkan tali untuk menyelamatkan Si Bang Komodo. Saat itu, saya sama Si Jopal terus berusaha menyeimbangkan perahu dengan mengarahkan dayung kesana kemari. Untunglah Si Bang Komodo masih sadar dan dapat meraih tali.
Terengah-engah Si Bang Komodo menghampiri perahu kami yang mulai memasuki perairan tenang.
"Pengarungan masih panjang, sepertinya saya tak mungkin melanjutkan. Dada saya sesak. Tapi tenaang, ada teman saya yang akan menggantikan." Kata Bang Komodo sambil terus memegang dadanya.
Aih, kasian juga Si Bang Komodo.Ingin saya memeluknya, tapi sayang lelaki.
"Tengkyu Bang ya. semoga Abang sukses dan kita bisa bertemu lagi dikesempatan yang lain." Kata Si Jopal, sedikit terisak.
"Siapp." Kata Si Bang Komodo sambil tersenyum getir ke kami.
Setelah itu, pengarungan sungai Palayangan pun kami lanjutkan bersama teman Bang Komodo yang aduh, saya lupa namanya.
Alhamdulillah, kami selamat sampai tujuan tanpa kurang satu apapun.
Di akhir jeram, teman-teman sudah menunggu disana. Kami disuguhi wedang jahe panas yang yang sungguh mungkin itulah wedang jahe ternikmat yang pernah saya minum.
![]() |
| Yiiihaaaa! |
Sambil selonjoran di tanah, saya seruput itu wedang jahe dengan penuh penghayatan sambil diselingi oleh rasa syukur yang tak henti-henti.
"Terima kasih Allah. Sungguh ini pengalaman yang luar biasa. Terima kasih juga sudah memberikan saya jiwa dan raga yang sehat selama ini. Tanpanya, tak mungkin saya menikmati ini semua."
Ditulis oleh Saya di Bandung, 08 Juni 2013







0 comments:
Post a Comment